When I was just a little girl
I asked my mother what will I be
Will I be pretty
Will I be rich
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
When I was just a child in school
I asked my teacher what should I try
Should I paint pictures
Should I sing songs
This was her wise reply
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
When I grew up and fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will there be rainbows day after day
Here's what my sweetheart said
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be, will be
Que sera sera...
Que sera sera, whatever will be will be... That's what should I tell myself all over again.
Ikhlas
dan memasrahkan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi memang
sulit, bahkan terkadang sangat sulit. Butuh waktu yang tidak sebentar
dan malah cenderung perlu hampir seumur hidup untuk benar-benar bisa
menerima kenyataan dan akhirnya bisa bangkit dan 'melupakan'.
It's
not (only) abaout love. It's more about life. Semua yang terjadi dalam
hidup perlu keikhlasan dalam menjalankannya. Pekerjaan. Persaudaraan.
Persahabatan. Kemanusiaan. Apalagi Percintaan.
I used
to be the person who will say "udah, ngapain diterusin kalo bikin
capek, mending diputusin" to everyone who share their bad love stories
to me. Jarang sekali aku menyuruh mereka untuk kekeuh mempertahankan
atau berusaha mengalah. Aku masih saja mengedepankan ego. Sampai
akhirnya aku berada dalam posisi yang ga pernah aku bayangkan
sebelumnya. I'm in love.
Beberapa
kali menjalin hubungan yang disebut orang sebagai pacaran, namun aku
belum pernah merasakan benar-benar "menginginkan" orang tersebut. Aku
ga memungkiri kalo aku bener2 "cinta" sama mantan pacarku dulu zaman
SMA. hahaha yeahh, he was the first man in my life that I was really
happy to be with. :) Saat putus, aku perlu waktu 3tahun untuk bisa
membuka hati dengan orang lain, yang notabene dijalani dengan maksud
kesenangan hati. Dia-nya jauh bray, LDR ceritanya. hahahaa lalu itupun
kandas. Aku ga terlalu pusing, sempet misah misuh karena alasan putus
adalah selingkuh, yaa namanya juga LDR, rawan sama hal yang begituan.
Hal-hal
yang pernah terjadi dalam hidupku ga terlalu aku ambil pusing. Karena
aku tau, sesedih-sedihnya aku dalam satu hari, pasti akan ada ntah itu
cuma 5 menit aku lupa sama sedihku dan aku tertawa. That's why I always
enjoy whatever happened in my life. sadness, sorrow, happiness,
laughter, tears, smile even the fake one. hehehe I don't mind.
Jadi memang bener sih, Que sera sera whatever will be will be.
Harusnya kita ga usah terlalu ambil pusing sama hal-hal yang cuma nambah beban pikiran. Harusnya....
Tapi
sekarang aku tau kalo itu ga gampang, sangat tidak mudah untuk
melakukannya. Hal-hal berat yang dulu bisa aku lalui dengan sebuah
tepisan perasaan atau senyuman, sekarang itu aja ga cukup. Bahkan
sebuah pelukan hangat pun tak terlalu membantu sekarang...
Sayangnya
(atau justru untungnya) aku bukanlah tipe orang yang bisa ipengaruhi
oleh motivator. Aku adalah satu-satunya orang ynag bisa memotivasi diri
sendiri. Aku ga begitu tertarik sama acara2 'salam super' dan
sejenisnya yang bisa membuat orang berapi-api pada detik itu tapi lalu
tidak mengamalkannya. cukup aku sendiri. hanya aku yang bisa
menggerakkan diriku, hatiku, dan pikiranku.
Sekarang mantra yang akan selalu aku ucapkan adalah, Que sera sera, Whatever will be will be.
Semoga bisa tetep semangat. Bisa membantu untu relieve dan release. Itu yang penting....
No comments:
Post a Comment